Apa kamu tahu?

Kulit yang sehat adalah rumahnya flora yang bersahabat yang punya peran penting untuk sistem kekebalan tubuh kita (termasuk untuk sehat dan cantiknya kulit!), dan mereka nih bisa hidup pada bagian atas dari lapisan lipid yang sehat (tidak terganggu fungsinya) pada kulit kita!

rubah arti bersihmu.jpg

Kalau ditanyain ke rata-rata orang modern, gimana sih kulit yang bersih itu? pasti bilangnya kesat, tidak berminyak @_@. Benar nggak sih bersih itu seperti itu adanya? Memang seperti ini kenyataannya, biasanya orang berpikir kalau kulit bersih itu ya setelah dibersihkan kudu kesat. Kebanyakan kulit kesat itu setelahnya kulit terasa kering dan kencang (ketarik nggak nyaman). Tau nggak kalian, kalau setelah kulit dibersihkan, rasanya seperti itu, sudah bisa dipastikan kalau pas ngebersihin kulit, lapisan hydro lipid barrier dan acid mantle kulit kalian terganggu alias kalian cuci/hilangkan juga lapisan itu (meski nggak benar-benar hilang, kayak gone, gone, gone gitu sih!). Banyak dari masalah kulit juga berawal dari kulit yang terganggu keseimbangannya dengan pemakaian produk yang tidak selaras dengan alam (think of each cell in our body, can talk and align with the elements of nature “Sun, Water, Plants & Minerals and it doesn’t do so with synthetic chemical do as the negatif effect apalagi yang berbahaya but let’s not be dumb ya.. soalnya plants substance juga ada yang toxic, and you also can’t just drink rocks to replace your calcium supplement for strong bones, but you will have batu ginjal instead @_@ so you got my point rite😉 ).

Rata-rata ritual perawatan kulit modern, secara agresif akan membuat kulit kita sangat terganggu keseimbangannya, apalagi kalau kita memakai pembersih kulit yang keras, seperti yang mengandung detergen, alkohol, antiseptik, benzoyl peroxide, proplyene glycol, toner dari alkohol dan banyak lainnya. Semua bahan yang saya sebutkan diatas, sangat-sangat menggangu fungsi hydro lipid barrier kita, termasuk bikin kulit kita yang punya fungsi memproduksi minyak alami kulit dan bernapas pun susah jadinya (ingat, minyak alami kulit itu diciptakan Allah karena ada fungsinya, jadi kenapa juga kalian keringkan tambang minyak alami kalian yang sama artinya dengan menggangu keseimbangan fungsi kulit yang sama artinya more problem skin). Semakin sering kita nyabuni kulit nih, semakin hilang minyak alami kulit kita, dan teman-teman kecil para micro organisme yang rumahnya di kulit kita jadi kita gusur (nah mereka mau pindah tinggal dimana?, malah adanya kita dibikin kapok sama mereka, kata mereka gini “you’ll see!, you’ll feel sorry after I leave! and you will pay the cost for throwing me out of my house!” @_@ wek! 

Nggak itu aja efek negatifnya, kulit kita jadi lebih kasar, sensitif, lebih mudah untuk muncul kerutan dini termasuk inflamasi juga lho.. kalau kulit bisa suruh kita ngaca ke dalamnya untuk melihat apa yang terjadi di dalam lapisan kulit dan tubuh kita karena apa yang kita pakaikan ke atasnya, mereka pasti nyalahin kita “tuh kan.. dikau yang bikin aku gini… gimana aku mo sehat dan cantik!”

Lapisan acid mantle kulit kita dengan pintarnya menjaga secara otomatis pH kulit kita di sekitaran angka 5.4 – 5.9, (kecuali bagian tubuh lainnya yang lebih lembab, biasanya cenderung lebih basa pHnya). Nah, ketika kulit kita ganggu dengan penggunaan pembersih kulit, penggunaan bahan kimia apalagi pada wajah untuk macam-macam biar cantik dan putih (it’s such a rave in Asia! which is ridiculous, I can’t imagine how can a human skin become poreless and white with no blemish like a doll!, that is not humane!). Sudah ada penelitian yang membuat percobaan pembersih wajah, dimana penggunaan secara terus menerus atas pembersih wajah, mengiritasi lapisan acid mantle, merubah komposisi bakteri dan flora pada kulit termasuk merubah aktifitas enzim. Termasuk juga meningkatkan pH alami kulit, yang bisa membuat kulit jadi rentan terkena jamur, ragi, termasuk bakteri penyebab jerawat.

Kulit kering itu bukan kondisi yang normal adanya, kulit berjerawat juga nggak normal. Termasuk kulit yang terdehidrasi, atau kusam dan terlalu berminyak, ini tanda-tanda ketidakseimbangan fungsi kulit kalian. Coba kalian kurangi pemakaian sabunnya dulu, terutama hilangkan bahan kimia sintetis berbahaya pada kosmetik kalian, terutama di bagian yang sensitif. Dan pastikan air yang kalian gunakan untuk membersihkan tubuh bukan air PDAM ya.. atau pakai filter air. Atau coba cara keluarga kami memakai sabun.

1. Mandinya jarang-jarang (sehari paling maksimal 1 kali mandi dengan catatan tidak harus pakai sabun, atau pakai sabunnya cuma di bagian lipatan tubuh saja).

2. Mandi pakai sabun menyeluruhnya 1 minggu sekali

3. Bagaimana untuk wajah? like always, I do NOT soap my face (well, I did once in a blue moon when I feel like I want to)🙂 Saya bersihin wajah sehari-harinya dengan jus tanaman, aloevera, air beras klo pas ada, and of course with face oil Rainforest😉, I like to use Raifforest mildest cleanser seperti milky mud, dan untuk kalian, I don’t tell you what you should do, tapi ada baiknya jika kulit kalian sedang bermasalah, forget about soaping your face for couple of days. If you want to disinfectant your skin, especially those who has acne, you can do it with mild soap but must with warm water, massage the face with soap then rinse again with warm water, then rinse with cold water. For those who has dry skin, and problem skin other than acne, please try not to wash your face with soap.

Sampai lapisan stratum corneum kalian sehat lagi, berfungsi secara alami dan normal lagi, till then your skin will still show up some discomfort. 

Hey, look at the bright side! you save more money, you save more bottles from being wasted in landfill, and you save the environment, and you will no longer say that Organic and natural is expensive rite😉

Mom Deasi

Sumber:
De , Borges LF, Silva BL, Gontijo Filho PP (2007). “Hand washing: changes in the skin flora”. Am J Infect Control 35 (6): 417–20. 
Schauber J, Gallo RL (2008). “Antimicrobial peptides and the skin immune defense system”. J Allergy Clin Immunol 122 (2): 261–6.
Alekseyenko, AV; Perez-Perez, GI; De Souza, A; Strober, B; Gao, Z; Bihan, M; Li, K; Methé, BA; Blaser, MJ (2013). “Community differentiation of the cutaneous microbiota in psoriasis”. Microbiome 1 (1): 31.
Baker BS (2006). “The role of microorganisms in atopic dermatitis”. Clin Exp Immunol 144 (1): 1–9.