2 minggu belakangan ini, saya langganan (maaf), burping and farting..🙂. Soalnya badanku ini lagi mengalami fase yang kurang nyaman sebagai seorang wanita. Burping alias sendawa n Farting alias kentut aja jadi sesuatu yang berharga banget, karena nggak nyamannya badan ini. Kayak balon, melembung isinya angin..mungkin juga karena angin di atas gunung super windy.

Ehm.. I’m gonna have a baby again inshaAllah😉

errhhmm, lets not discuss how many kids I’ve now.
But the blessings and challenges were amazing so far alhamdulillah.

image

Nasib orang cuek, karena sibuk jadi petani dan seru-serunya ngebangun Eco Farm, tadinya aku kira, wah..mungkin kecapekan kali nih.. atau kena sunburn kali..hehe.. tambah lama, tambah aneh aja nih badan, 2 bulan kemudian, langsung deh feeling wanitaku nyolek, “Deasi, you’re not sick, biasanya juga jarang sakit, masak jadi petani beginner aja langsung sakit..payah donk..” Pas ada kesempatan ke Malang, langsung deh tes, tapi instict sih udah kuat banget.. I’m gonna have another baby. and yes its true!

Dalam hati.. wah nih janin kuat juga ya, diajak macul tiap hari, kerja di alam terbuka mulai jam 5 pagi hingga jam 5 sore. I think we both are enjoying our adventure, ups plus balitaku yg paling kecil Anny (22 bln), soalnya nih, kita betiga trio, kemana2 barengan terus, naik turun gunung, beraktifitas, Anny gendong belakang or just hanging around me.

Akhirnya setelah 2 bulan, datang juga yg namanya morning sickness, walahhhh ini dia yang paling nggak aku nikmati dan jadi tantangan terbesar jadi bumil. Seperti semua kakak2nya, aku maunya cuma fruits n vegies, nuts n seeds n, nggak mau makanan urip-uripan alias hewani (kata Mimi), trus maunya makanan tradisional vegan-vegetarian seperti gado-gado, rujak sayur, urap-urap, tinutuan (bubur manado), sambal kacang dan tomat lalapan ramban sawah buat sarapan, sayur santan daun ubi manado, blendi, jangan tewel, sampe pengen black forest, dark chocolate drink nahh nih dia yg bikin pusing… gimana mo bikin di atas gunung, bahannya cuma punya yg ada di kebun, minta kirim dari Malang, ehhh nggak doyan makanan dari rumah makan. Maunya cuma homemade food aja.. dapurku di Malang I miss you!!

Biar nggak seberapa menyiksanya mual, muntah, pusing, lemes, aku ajak aja beraktifitas. Tapi ternyata nggak mudah juga, apalagi pas jadi orang dewasa sendiri di Eco Farm, karena suami lagi berada di luar negeri. Se-nggak enaknya nih badan, segunung tanggung jawab dan kehidupan di sekelilingku yang tetap harus aku jaga kelangsungannya. Mulai dari nyiram green house, masak, nyuci, ngecek ternak peliharaan, gardening and overall farming works.

Pikirku..benar-benar nggak mudah tantangan saat ini. Tapi ini pilihanku, tanggung jawab yang sudah aku ambil, mana bisa aku lempar ke orang lain cuma karena aku merasa kurang nyaman? I just need to find a way to make it easy for me to pass this short period of discomfort. Benar-benar merasa super bersyukur dengan keadaanku, dan salut dengan perjuangan dan pengorbanan para wanita lainnya. Nggak kebayang wanita di desa terpencil, yang harus berjuang dengan ketidaknyamanan morning sickness dan seterusnya, sambil harus berjuang agar tetap bisa makan setiap harinya. Aku enak banget, meski di gunung, tuk ambil air bersih, tinggal jalan dikit, buka keran, keluar deh dari water catchment. Memasak nggak harus pake api yang aku kudu nyari kayu bakarnya dulu, karena bisa pake kompor gas untuk sekarang. Sayur mayur, makanan tersedia setiap hari, tinggal metik dari green house dan nggak kekurangan sumber pangan lainnya yg masih disuplai dari Malang setiap minggunya karena kita belum 100% mandiri dari gunung. Allah is Merciful, I feel blessed for each of the easiness I have in my discomfort moments.

Struggling safely from Eco Farm

as always, n more in loving you my dearest friends,

Messy Green Mommy