Awalnya ketika remaja (usia 14 tahunan), saya terbiasa dengan persepsi bahwa kulit yang kesat setelah mandi atau mencuci wajah adalah tanda bahwa kulit sudah bersih, tetapi hasilnya, kulit saya yang cenderung kering menjadi lebih kering. Jalan keluarnya, saya harus menggunakan lotion bahkan memilih yang berbentuk cream/krim dengan alasan karena cream kadar minyaknya lebih banyak agar lebih maksimal untuk melembabkan kulit (tadinya saya pikir ini normal), tidak puas dengan keadaan kulit yang tidak nyaman, dan merasa ada yang salah dengan ritual “normal” untuk menjaga kecantikan kulit tubuh dan wajah ala produk komersial, akhirnya saya banting setir untuk mencari alternatif lainnya. Mulailah saya bertanya kiri kanan, terutama ke almarhumah buyut putri yg ketika itu masih hidup termasuk banyak membaca (kata ibu saya, uang jajan yg saya tabung tidak berupa seperti remaja lainnya, sering saya diomeli, disuruh beli baju atau apalah seperti remaja kebanyakan bukannya beli buku). Balik kecerita buyuy, Saya kagum ketika memperhatikan beliau yang ketika itu usianya sudah 100tahun tapi kelihatan seperti berusia 80 tahunan dan masih sehat dan kuat. Iseng-iseng saya bertanya gimana sih buyut kalau mandi? Super kaget saya ketika beliau bilang tidak pernah pakai sabun (setelahnya sayapun tahu bahwa almarhumah kakek saya juga kalau mandi tidak pernah sabunan bahkan sikat gigi tanpa pasta gigi).

Untuk perawatan kecantikan kulit, beliau sering membaluri tubuh dan wajah/luluran kapur dll. Sikat giginya dengan mengunyah daun sirih, kapur. Iseng saya nyobain gimana rasanya, ternyata enak juga, mulai saat itu buyut beli sirihnya dobel, karena sering saya buat camilan.

Saya juga dikenalkan dengan berbagai tanaman obat2an disekitar rumah dan diajari lebih banyak makan sayur dan buah terutama mentahan. Yang paling saya suka ketika diajak ramban dikebun dan sawah untuk mengambil berbagai jenis daun-daunan dan dibuat pepes sayur “brengkes”,kalau sudah gini, saya yg biasanya susah makan, pasti makannya nambah terus..!!

Setelah banyak observasi, saya kemudian mulai bereksperimen untuk membuat perawatan tubuh, wajah dan rambut sendiri. Mulai dari pakai teh buat keramas, hingga masker rambut pake telur, sampe ponakan yg baru berusia 2 tahun ikut2an make dan ngk mau dikeramasin, jadinya ibu & bapaknya harus nahan bau dimalam hari..sampe kalau mandi saya nggak pake sabun lagi, gantinya kalo mandi pakai ketimun, wortel, susu sapi segar yg tadinya dipikir ibu, saya langganan susu setiap hari 1 liter buat diminum, ternyata buat mandi dan maskeran, he..he.. ,. Efek kembali ke alam hasilnya lama-kelamaan mulai nampak, mulai rambut yang ikal jadi tambah keriting hingga kulit yang rasanya halusss banget!! Semua terbayar!! Tapi..masih juga sehari-harinya pake lotion kalau kulit lagi ngk nyaman. Nggak kebayang or kepikiran kalau isinya aneh2 yg malah dangerous alias berbahaya!! Mana ada sih produk alami yg ngk basi hingga minimal 1 tahun? Impossible (tapi dulu masih culun ngk kepikiran segitunya deh!).

Seiring waktu kebiasaan yang ditularkan buyut putri jadi mendarah daging termasuk makan sayur mayur mentahannya, kata ibu, saya tuh persis kambing, makannya sepiring, nasinya ngk kelihatan, yg kelihatan hijau semua..isinya sayur aja, pola makan ini tambah terasa setelah menikah, ibu-ibu dipasar suka nanyaain saya, bu belanja sayurannya kok banyak? Ada arisan ya? Punya depot ya? Ketika saya bilang ini untuk makanan utama kami, yang pada nanya adanya Cuma pada kaget aja..ha..ha..(salahnya nanya)

Setelah menikah suami yg kebetulan hidupnya super sederhana dan ternyata tau banyak tentang gimana hidup yang lebih sehat, selalu menemani saya jika mau belanja (termasuk belanja lotion yg jadi satu-satunya “kosmetik” saya), nyari lotion yg benar-benar sehat super susah. Sejak menikah, hanya sekali saya beli lotion (dipilihkan suami) setelahnya tidak pernah lagi memakai lotion komersial, gantinya saya hanya pakai minyak nabati buat pelembab kulit yang saya tambahin ini itu. Yang lucunya lagi, suami saya juga ternyata jarang banget sabunan jika mandi (seperti buyut dan kakek saya dan beliau kulitnya bersih dan lembut banget seperti kulit bayi, bahkan hingga sekarang diusianya yang sudah 48tahun, tapi kayaknya kalah deh ma kulit anak kami yang bungsu Zahra, mungkin karena sewaktu hamil saya makannya udah raw food) juga kata suami sering sabunan apalagi pake sabun yg komersial tidak baik untuk kulit karena minyak alami kulit jadi hilang dan bakteri yang bagus jadi mati juga bersama bakteri yg merugikan, kata lainnya tidak sehat dan tidak cantik tentunya.. Akhirnya  saya jadi lebih termotivasi tuk hidup lebih sederhana n kebtulan plusnya lebih sehat (alasan juga nih karena dasarnya setelah jadi ibu, saya malas banget tuk dandan or rutin bikin ritual perawatan).

Seiring waktu, urusan kecantikan fisik jadi prioritas yang ngk masuk banget di daftar saya, karena sibuk berhomeschool, ngurusin keluarga, belajar homeopathy, nutrisi, herbal, dan ilmu-ilmu penting untuk hidup yg berkelanjutan. Akhirnya setelah bertahun-tahun cuek ngurusin kulit (Alhamdulillah kulitnya ngk komplein), gara-gara terobsesi dengan raw food, saya jadi termotivasi lagi untuk ngerawat tubuh seutuhnya (sisi femininnya muncul lagi nih, ngk salah kalau diet raw food bikin Anda jadi berbeda secara fisik, akal, hingga spiritual, hasilnya saya jadi tambah feminin nih..ada kesenangan tertentu bersentuhan lagi dengan sisi kewanitaan saya yg dulunya kental banget ketika masih single alias masih banyak waktu tuk diri sendiri). Jadi pengen Cantik buat suami dan diri sendiri & harus Cantik yang Sehat.

Tapi setelah bertahun-tahun ngk pernah belanja bahkan ngintip bagian kosmetik, perawatan tubuh dan wajah, ketika saya pengen nyoba lagi, saya jadi urung membeli, karena saya tidak bisa menemukan produk yang ideal. Kata suami, ada sih, tapi belinya harus diluar negeri, sudah gitu super mahal bikin jebol kantong, dan apa iya itu sebanding dengan apa yang saya mau? Jadi kepikiran, gimana dengan sahabat wanita di Indonesia yang punya masalah seperti saya?  Akhirnya dengan dukungan suami, saya mulai belajar lebih jauh tentang pembuatan produk yang benar-benar alami dan tanpa menggunakan bahan sintetis sedikitpun untuk perawatan tubuh, kecantikan, dll. Setiap produk yang diciptakan harus memiliki manfaat kesehatan. Perjalanan baru untuk penciptaan produk ini tidaklah mudah. Berbulan-bulan saya habiskan untuk research baik online maupun offline untuk memformulasikan produk ecocare dan ecosmetics, menhabiskan sedikitnya 15jam/hari untuk bekerja sambil berhomeschool dan menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga + masih harus menyiapkan makanan fresh + manggang kue tuk camilan keluarga dan tugas keseharian lainnya. Semuanya menjadi wujud kepedulian saya dan keluarga untuk Anda.

Semakin hari semakin banyak wanita Indonesia yang kembali memakai produk yang benar-benar alami agar lebih cantik dan sehat tentunya, contohnya dengan memakai produk seperti ecocare dan ecosmetics.

Senang rasanya semua usaha terbayar dengan melihat perubahan yang ada. Kami mungkin tidak dikenal dan keberadaan kami sangatlah kecil di Industri kecantikan ini, tetapi setiap wanita/individu yang tergugah dengan adanya keberadaan kami kemudian mengambil langkah untuk mencoba hidup yang lebih alami dan bersabar merasakan hasilnya adalah sesuatu yang sangat berharga buat kami.

Cerita tentang produk yang saya ciptakan, bisa Anda baca dan temukan di Green Mommy Shop.

Much Love n Thoughts about You all,

Deasi

 

 

 

 

 

(foto ini modalnya; bedak, eyeshadow 1 warna, lipgloss, pensil eyeliner dibuat jadi pensil eyebrow)

jangan diketawain ya…ngk modal banget mo dandan yang bener..^_^  abis ngk punya alat dandan nih ceritanya (aslinya ngk bisa dandan sih ^^) but I’m still here, so I guess ngk bisa dandanpun IT’S OK!