Cerita ini bermula dari keputusan suami untuk kami sekeluarga memulai menjalanidiet raw food. Tidak ada nada sumbang atau keberatan dari saya ataupun anak-anak, karena sebelumnya diet keluarga kami bisa dibilang sudah 50 persen raw food/makanan mentah. Jadi kami tidak kaget, cuma yang ada dipikiran saya dan anak-anak, wah nggak bakal makan pita bread dan feta cheese lagi donk, belum termasuk apple cake, vegetable pizza dan masih banyak lagi makanan vegetarian kami yang super delicious (banyak yang pesan lho!).

Ya sudah, karena alasan kesehatan dan tujuan kami untuk bisa menerapkan sustainability living, akhirnya kami mulai 100% diet raw food. Langsung dalam hitungan hari saja banyak perubahan drastis yang saya dan anak-anak rasakan dan yang paling lucu adalah The Stinky Bomb! Sepanjang hari selama kurang lebih 2 minggu saya mulai memproduksi The Stinky Bomb (alias kentut yang baunya lumayan, sorry nih bahasanya nggak bagus, tapi nggak adalah bahasa sopan lainnya deh di kamus bahasa Indonesia :-)).

Awalnya saya kira perut ini lagi error aja gara-gara diet/pola makan yang berubah, nggak taunya ini adalah salah satu hasil yang diharapkan terjadi karena adanya protes detoxifikasi dari raw food diet. Jadi sepanjang hari, hampir setiap lima menit saya kentut melulu, saya sih cuek aja, tapi mahluk hidup disekitar saya yang merasa terganggu, terutama anak-anak. Setiap harinya kita homeschool di ruang belajar, duduk berdekatan selama kurang lebih 4 jam, jadi bisa anda bayangkan saja, selama 4 jam setiap menitnya saya kentut, ha..ha..! awalnya anak-anak saya pada kasih muka masam, “mommy kentut ya?” akhirnya saya harus kasih peringatan sebelum bomb meletus, tapi karena keseringan, dari hari ke hari, anak-anak jadi punya berbagai macam ide untuk mengatasi The Stinky Bomb!, salah satunya pake masker, nah kadang nih, maskernya nggak ketemu, jadi belajarnya dengan satu tangan jadi penjepit hidung, gara-gara periode detox yang stinky bomb ini menjadi awal pemicu hilangnya jepit jemuran saya (dipakai bergantian oleh 2 anak saya untuk menjepit hidung, nah lho!).

Tapi akhirnya 2 minggu itu lewat juga, lega rasanya. Kalau diingat kembali dan dihitung untung ruginya, saya senang badan ini ternyata bekerja juga detoxnya. Semakin cepat detox dimulai, semakin cepat badan ini jadi lebih sehat.

Semoga yang baca pengalaman ini termotifasi untuk menjalani diet raw food yang pastinya badan lebih sehat dan bakal menjalani hari lebih menyenangkan (karena bakal banyak pengalaman lucu).

Nantikan pengalaman lucu dan cerita dari perjalanan raw food berikutnya dari Green Mommy🙂